Article

Satu dekade terakhir ini, Pemerintah Indonesia terbilang cukup gencar menerbitkan peraturan-peraturan yang ditujukan untuk meminimalisir masalah lingkungan. Dari sekian banyak masalah lingkungan yang berujung pada terbentuknya berbagai peraturan baru tersebut, regulasi tentang penggunaan plastik menjadi salah satu yang paling gencar diterbitkan.Beberapa peraturan yang berhubungan dengan plastik di antaranya dituangkan dalam:[su_spacer size="5"]UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan Terkait beserta turunannya, dalam:a. Pasal 14: Setiap produsen harus mencantumkan label atau tanda yang berhubungan dengan pengurangan dan penanganan sampah pada kemasan dan/atau produknya.b. Pasal 15: Produsen wajib mengelola kemasan dan/atau barang yang diproduksinya yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam.c. Pasal 20: Dalam melakukan kegiatan pengurangan sampah, pelaku dan masyarakat diharuskan menggunakan bahan yang menimbulkan sampah sesedikit mungkin, dapat diguna ulang, dapat didaur ulang, dan/atau mudah diurai oleh proses alam.[su_spacer size="15"]PP No. 81 Tahun 2012

Rapper Saykoji dan Kostum Komik menelurkan single terbaru berjudul ‘Plastik’. Kolaborasi persembahan Ecorasa ini mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih peka terhadap bahaya sampah plastik dan dampaknya di masa yang akan datang.[su_spacer size="5"]Lagu diawali dengan adegan animasi di mana anak laki-laki Saykoji mempermasalahkan kemasan berbahan plastik yang lazim digunakan pada masa kini. Ia mengkhawatirkan dampak dari sampah plastik yang membutuhkan ratusan hingga ribuan tahun untuk terurai, berpotensi menumpuk dan kelak akan berimbas pada generasinya.[su_spacer size="5"]Sebagai orangtua, Saykoji pun memberi solusi untuk mencegah terjadinya masalah yang lebih besar di masa mendatang. Selain mereduksi penggunaan plastik konvensional, rapper kelahiran Balikpapan tersebut juga mendorong penggalakan daur ulang dan membuang sampah plastik pada tempat yang seharusnya demi terjaganya kelestarian lingkungan. Di luar itu, Ia juga mengajak masyarakat untuk mulai memperhatikan bahan kemasan yang digunakan restoran ketika ingin memesan makanan.[su_spacer size="5"]Melalui perpaduan rap dan komik animasi,

Ecorasa, pelopor kemasan F&B ramah lingkungan dengan teknologi Oxium, oxo-biodegradable plastic bersama Kulina mengadakan Ecocamp pada Selasa (09/04/2019) lalu. Acara ini ditujukan sebagai bentuk edukasi konsep ramah lingkungan secara holistik. [su_spacer size="5"]Seringkali pemahaman masyarakat mengenai ramah lingkungan hanya berkonsentrasi pada materialnya saja, padahal ada faktor-faktor lain juga yang perlu diperhatikan seperti, dampak carbon footprint, limbah tambahan ketika produksi, dlsb. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah daur hidup material tersebut. Kertas misalnya, mudah terurai dan relatif ramah lingkungan tetapi konsumsi energinya cukup besar. Lain halnya dengan plastik yang memiliki konsumsi energi relatif kecil tapi bermasalah di end-of-life (daur hidup).[su_spacer size="5"]“Kami merasa perlu mengadakan ecocamp ini sebagai support kita terhadap rekanan kita, dengan harapan agar tim Kulina sendiri terbantu dalam melayani konsumen mereka yang jaman sekarang serba kritis dalam menanggapi isu ramah lingkungan”, ujar Shivan, founder Ecorasa.[su_spacer size="5"]“Kami juga ingin bertindak tidak hanya

Lebih baik pakai kertas atau plastik? Beling (glass) atau kaleng? Saat ini semakin banyak kelompok/komunitas yang peduli dengan lingkungan dan ikut berperan aktif mengkampanyekan gaya hidup ramah lingkungan, contohnya dengan menggunakan botol dan tas pakai ulang, mengurangi konsumsi plastik konvensional, mengganti material-material kimiawi ke material organik, dlsb. Tentunya upaya tersebut merupakan suatu hal yang baik, namun sebenarnya seberapa ramah lingkungan sih, material “ramah lingkungan” itu? Kriteria Holistik Ramah Lingkungan Dalam melihat definisi material ramah lingkungan, kita tidak bisa hanya melihat dari satu aspek saja. Kertas misalnya, selama ini material tersebut dianggap sebagai material paling ramah lingkungan. Namun tidak banyak yang sadar bahwa kertas untuk pembungkus makanan pasti perlu tambahan plastik sebagai pelapis agar tidak bocor.[su_spacer size="5"]Atau plastik misalnya, proses produksinya tidak memakan konsumsi energi yang besar, namun daur hidupnya yang baru bisa terurai dalam 500 - 1000 tahun menyebabkan timbulan sampah plastik

Sejak pertama kali dikembangkan secara komersial pada tahun 1950-an, plastik telah berkembang menjadi salah satu temuan yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Wujudnya yang praktis, fleksibel, kuat dan memiliki harga yang bersahabat, menjadikan plastik sebagai pilihan utama untuk mengemas berbagai macam produk di era industri ini. Namun, di balik itu penggunaan plastik juga menyimpan konsekuensi fatal terhadap kelestarian lingkungan. Apa Penyebabnya?Pengelolaan Sampah Plastik yang Kurang Baik Berbagai kelebihan yang dimiliki plastik membuatnya banyak digunakan oleh pelaku industri hingga seluruh lapisan masyarakat di era industri seperti masa kini. Sayang, penggunaan plastik secara massal ini tidak diimbangi oleh manajemen ataupun kesadaran yang cukup dari beberapa penggunanya. [su_spacer size="5"] Salah satu contoh mismanajemen pengelolaan sampah plastik yang paling umum dijumpai dapat dilihat dari membuang sampah sembarangan. Bahkan tak jarang ada orang yang langsung membuang sampah plastik miliknya ke saluran air. Tidak heran, saat ini sampah berbahan