May 2019

Ecorasa, pelopor kemasan F&B ramah lingkungan dengan teknologi Oxium, oxo-biodegradable plastic bersama Kulina mengadakan Ecocamp pada Selasa (09/04/2019) lalu. Acara ini ditujukan sebagai bentuk edukasi konsep ramah lingkungan secara holistik. [su_spacer size="5"]Seringkali pemahaman masyarakat mengenai ramah lingkungan hanya berkonsentrasi pada materialnya saja, padahal ada faktor-faktor lain juga yang perlu diperhatikan seperti, dampak carbon footprint, limbah tambahan ketika produksi, dlsb. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah daur hidup material tersebut. Kertas misalnya, mudah terurai dan relatif ramah lingkungan tetapi konsumsi energinya cukup besar. Lain halnya dengan plastik yang memiliki konsumsi energi relatif kecil tapi bermasalah di end-of-life (daur hidup).[su_spacer size="5"]“Kami merasa perlu mengadakan ecocamp ini sebagai support kita terhadap rekanan kita, dengan harapan agar tim Kulina sendiri terbantu dalam melayani konsumen mereka yang jaman sekarang serba kritis dalam menanggapi isu ramah lingkungan”, ujar Shivan, founder Ecorasa.[su_spacer size="5"]“Kami juga ingin bertindak tidak hanya

Lebih baik pakai kertas atau plastik? Beling (glass) atau kaleng? Saat ini semakin banyak kelompok/komunitas yang peduli dengan lingkungan dan ikut berperan aktif mengkampanyekan gaya hidup ramah lingkungan, contohnya dengan menggunakan botol dan tas pakai ulang, mengurangi konsumsi plastik konvensional, mengganti material-material kimiawi ke material organik, dlsb. Tentunya upaya tersebut merupakan suatu hal yang baik, namun sebenarnya seberapa ramah lingkungan sih, material “ramah lingkungan” itu? Kriteria Holistik Ramah Lingkungan Dalam melihat definisi material ramah lingkungan, kita tidak bisa hanya melihat dari satu aspek saja. Kertas misalnya, selama ini material tersebut dianggap sebagai material paling ramah lingkungan. Namun tidak banyak yang sadar bahwa kertas untuk pembungkus makanan pasti perlu tambahan plastik sebagai pelapis agar tidak bocor.[su_spacer size="5"]Atau plastik misalnya, proses produksinya tidak memakan konsumsi energi yang besar, namun daur hidupnya yang baru bisa terurai dalam 500 - 1000 tahun menyebabkan timbulan sampah plastik

Sejak pertama kali dikembangkan secara komersial pada tahun 1950-an, plastik telah berkembang menjadi salah satu temuan yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Wujudnya yang praktis, fleksibel, kuat dan memiliki harga yang bersahabat, menjadikan plastik sebagai pilihan utama untuk mengemas berbagai macam produk di era industri ini. Namun, di balik itu penggunaan plastik juga menyimpan konsekuensi fatal terhadap kelestarian lingkungan. Apa Penyebabnya?Pengelolaan Sampah Plastik yang Kurang Baik Berbagai kelebihan yang dimiliki plastik membuatnya banyak digunakan oleh pelaku industri hingga seluruh lapisan masyarakat di era industri seperti masa kini. Sayang, penggunaan plastik secara massal ini tidak diimbangi oleh manajemen ataupun kesadaran yang cukup dari beberapa penggunanya. [su_spacer size="5"] Salah satu contoh mismanajemen pengelolaan sampah plastik yang paling umum dijumpai dapat dilihat dari membuang sampah sembarangan. Bahkan tak jarang ada orang yang langsung membuang sampah plastik miliknya ke saluran air. Tidak heran, saat ini sampah berbahan