Blog

Tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. (Sumber foto: Mediaindonesia.com)

Krisis Sampah Plastik Bukan Lagi Masalah Main-Main

Sejak pertama kali dikembangkan secara komersial pada tahun 1950-an, plastik telah berkembang menjadi salah satu temuan yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Wujudnya yang praktis, fleksibel, kuat dan memiliki harga yang bersahabat, menjadikan plastik sebagai pilihan utama untuk mengemas berbagai macam produk di era industri ini. Namun, di balik itu penggunaan plastik juga menyimpan konsekuensi fatal terhadap kelestarian lingkungan.

Apa Penyebabnya?

  • Pengelolaan Sampah Plastik yang Kurang Baik

 

Berbagai kelebihan yang dimiliki plastik membuatnya banyak digunakan oleh pelaku industri hingga seluruh lapisan masyarakat di era industri seperti masa kini. Sayang, penggunaan plastik secara massal ini tidak diimbangi oleh manajemen ataupun kesadaran yang cukup dari beberapa penggunanya.


Salah satu contoh mismanajemen pengelolaan sampah plastik yang paling umum dijumpai dapat dilihat dari membuang sampah sembarangan. Bahkan tak jarang ada orang yang langsung membuang sampah plastik miliknya ke saluran air. Tidak heran, saat ini sampah berbahan plastik kerap ditemukan mencemari lingkungan. Pada akhirnya, kumpulan sampah ini akan terakumulasi dan menciptakan polusi di lingkungan.

  • Plastik Membutuhkan Waktu Lama untuk Terurai

Selain digunakan secara luas tanpa manajemen dan kesadaran yang masih kurang memadai, masalah lain turut muncul dari bahan yang digunakan dalam pembuatan plastik itu sendiri.


Mayoritas plastik saat ini dibuat menggunakan materi yang lama terurai di alam, karena memiliki rantai molekul yang panjang sehingga sulit dimakan mikroba. Beberapa jenis plastik bahkan membutuhkan waktu puluhan, bahkan hingga ratusan tahun untuk dapat terurai dengan alami, sehingga akan sangat sulit untuk menyingkirkan sampah plastik jika tidak dilakukan penanganan secara baik dan benar.

 

Apa Saja Jenis Polusi Sampah Plastik?

  • Makro

Jenis sampah plastik dapat dikategorikan sebagai makroplastik ketika berukuran lebih dari 20 mm. Contoh makroplastik yang paling umum dijumpai atau digunakan dalam keseharian adalah plastik belanja, sedotan, kotak makanan dll.


Seiring berjalannya waktu, makroplastik juga dapat berubah menjadi mikroplastik setelah melalui proses seperti hidrolisis, fotodegradasi, dan degradasi mekanikal maupun fisikal.

  • Mikro

Mikroplastik merupakan sampah plastik yang berukuran antara 2 mm-5 mm, dan bisa didaur ulang untuk membuat plastik baru. Jenis plastik ini paling sering dijumpai dalam berbagai produk pembersih.


Ukurannya yang relatif kecil membuat dampak sampah mikroplastik kerap dianggap remeh, walau sesungguhnya dapat membawa efek negatif ketika dibiarkan terurai langsung di lingkungan atau terkonsentrasi dalam skala besar dalam waktu lama.

 

Dampak Polusi Sampah Plastik

Polusi sampah plastik di Sungai Citarum. Sungai ini mendapat predikat sungai terkotor di dunia dari World Bank (Sumber foto: Laurentweyl.com)

  • Kerusakan Ekosistem

Sampah plastik dari daratan yang masuk ke perairan dalam jumlah besar akan menyebabkan kerusakan ekosistem yang tak terbayangkan. Salah satu contoh paling nyata dapat dilihat dari kasus penemuan bangkai Paus di Wakatobi, Sulawesi Utara pada akhir 2018 lalu.

Bangkai Paus berukuran 9,5 meter tersebut ditemukan terdampar dengan gumpalan sampah plastik seberat 5,9 kg di dalam tubuhnya. Parahnya lagi, bangkai paus tersebut ditemukan di kawasan konservasi Taman Nasional Perairan (TNP) Wakatobi yang seharusnya bebas dari polusi.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bahkan mengatakan, jika masalah ini terus berlanjut tanpa adanya penanganan serius, bukan tidak mungkin pada tahun 2050 jumlah sampah plastik di lautan akan melebihi jumlah ikan di dalamnya.

  • Penumpukan di Berbagai Titik

Seiring waktu, jumlah plastik yang dikonsumsi oleh masyarakat tentunya akan semakin bertambah pula. Peningkatan volume penggunaan plastik ini turut berimbas pada makin banyaknya sampah plastik yang dihasilkan. Pada akhirnya, sampah-sampah plastik tersebut akan mengalami penumpukan di berbagai titik, khususnya di tempat yang sudah difungsikan sebagai tempat pembuangan akhir (TPA).

Hal itu akan berimbas pada pengurangan luas lahan yang seharusnya dapat digunakan untuk keperluan lain. Terlebih lagi, lamanya waktu yang dibutuhkan plastik untuk terurai secara alami juga membuat sampah plastik akan semakin menggunung jika tidak diberikan penanganan langsung.

  • Berbagai Masalah Kesehatan

Dengan ukuran yang tidak lebih dari 5 mm, mikroplastik tentunya sulit untuk dilihat secara kasat mata. Dari ukurannya yang kecil itu, tidak mengherankan jika plastik kerap memasuki tubuh manusia secara tidak sengaja, baik itu secara langsung ataupun setelah mengkonsumsi hewan yang jaringannya telah disusupi oleh mikroplastik. Dampaknya, fungsi organ tubuh seperti ginjal dan hati dapat terganggu, dan dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan.


Walau krisis sampah plastik ini sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan, masyarakat, beragam organisasi hingga perusahaan sedikit demi sedikit mulai sadar dan teredukasi akan dampak penggunaannya. Pemerintah Indonesia bahkan mencanangkan target untuk mengurangi sampah plastik di lautan hingga 70% dari total keseluruhannya pada tahun 2025.
Dengan semakin banyaknya pihak yang bersiap menyongsong era tanpa plastik tak ramah lingkungan, tentu sudah menjadi kewajiban bagi kita sebagai warga dunia untuk turut berkontribusi setidaknya dalam menjaga lingkungan yang kita tempati.

Share this: